Asy-Syaja’ah – Sikap Berani yang Kian Langka

be brave berani

be brave berani (Asy-syaja’ah) dalam menegakkan kebenaran (al-haq) merupakan ‘barang langaka’ di kalangan umat Islam.

Sedikit sekali, di antara milyaran umat Islam, yang berani menunjukkan sikapnya sebagai Muslim sejati, menolak kebatilan, memberantas kemunkaran, mengkritik atasan yang salah, meluruskan da’i yang menyimpang, memprotes kebijakan atasan yang salah, dan sebagainya.

Sebaliknya, mungkin kebanyakan umat memilih sikap diam, “cari aman”, dengan dalih “mengubah kemunkaran dengan hati” (yugoyyiru bil qolbi), tanpa sadar bahwa itulah sikap seorang yang beriman sangat lemah (adh’aful iman).

Lebih memprihatinkan lagi, mereka ikut-ikutan menyebut muslim lain yang “vokal”, tegas, dan keras terhadap kekufuran, kemunkaran, atau kebatilan sebagai “muslim garis keras”, “ekstremis”, “kaum militan”, atau “kaum radikalis Islam”. Mereka mengatakan, seorang muslim harus “moderat”, toleran, menghargai hak asasi orang lain, dan sebagainya.

Benar, seorang muslim harus moderat, toleran, dan menghargai orang lain dalam banyak hal, tapi tidak dalam hal kebatilan atau kemunkaran. Karakter seorang muslim memang harus lemah-lembut, sebagaimana ditunjukkan oleh Rasulullah Saw.

Tapi bukankah Rasulullah dan para sahabat juga mengangkat senjata, berperang, menghadapi kaum kafir? Bukankah Abu Bakar yang dikenal lemah-lembut juga bersikap keras dan tegas ketika banyak kaum muslim yang murtad, mengaku nabi, dan  tidak berzakat?

Sebuah hadits Nabi Saw. memprediksikan di suatu masa umat Islam akan menjadi bulan-bulanan dan santapan empuk musuh-musuh Islam karena sudah mengidap penyakit wahn, yakni cinta dunia dan takut mati (hubbud dunya wa karohiatul maut).

Penyakit wahn-lah yang menyebabkan di antara umat Islam pun banyak yang menjadi pengecut sehingga tidak lagi menjadi umat yang lembek dan tidak disegani. Wahn bisa membuat seorang mubalig kondang “cari aman”, takut kehilangan jamaah, takut kehilangan “order”, bahkan takut bisnisnya bangkrut.

Ia pun menjadi “ulama moderat” dan –sadar atau tidak sadar– merasa bangga menjadi “pion” musuh-musuh Islam dalam memecah-belah umat dan melemahkan semangat .

Wahn bisa membuat seorang anggota parlemen jadi “pendiam”, tidak vokal, merapat kepada penguasa (eksekutif), dan lebih memilih untuk mengamankan posisi dan kepentingan pribadi ketimbang “vokal” menyuarakan kepentingan rakyat yang diwakilinya.

Anggota parlemen, di berbagai tingkatan, yang “vokal” menyuarakan kepentingan rakyat jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Mayoritasnya entah apa saja yang mereka kerjakan, selain sibuk mengurus proyek atau lobi-lobi yang berbuah fee atau persentase komisi.

Hadits “Qulil haq walau kaana muuran” (katakan yang benar meskipun itu pahit) dan berkata benar di hadapan penguasa yang zhalim adalah juga salah satu bentuk jihad bil lisan. Jelas saja, dibutuhkan keberanian menanggung segala risiko bila kita senantiasa berterus terang dalam kebenaran.

KEBERANIAN (Asy-syaja’ah) hanya akan muncul dari diri seorang mukmin yang ‘serius’ dengan keimanan dan keislamannya. Iman dalam dirinya melahirkan dorongan beramal soleh, jihad, dan . Yang paling ditakutinya adalah murka Allah SWT saja.

Kematian baginya adalah sesuatu yang dinantikan, asalkan kematian itu datang saat dia berjuang di jalan Allah. Tidak heran, jika kaum muda Palestina dan para mujahid lain di seluruh dunia sangat bersemangat menuju medan jihad, bahkan dengan ‘bom bunuh diri’ sekalipun.

Para ulama harus menjadi teladan umat dalam hal keberanian ini. Pasalnya, karakter utama mereka adalah paling takut kepada Allah (yakhsyallaha) selain memahami dan mengamalkan syariat Islam.

Ulama idealnya berada di garis depan dalam jihad dan dakwah, amar ma’ruf nahyi munkar. Yang terjadi belakangan, banyak ulama yang gugur keulamaannya karena tidak memiliki sikap ini.

Banyak da’i, bergelar “KH” di depan namanya, yang hanya ‘berani’ mengajak kepada kebaikan, dengan ‘dakwah yang lembut’, namun di sisi lain ia tidak berani memberantas kemunkaran, dan berdalih dengan berbagai ‘silat lidah’ untuk menolak jika diminta memimpin aksi penolakan kemunkaran seperti korupsi, perjudian, dan prostitusi.

Kita masih bersyukur ada segelintir ulama yang memberi teladan bagi umatnya dalam hal keberanian menegakkan al-haq dan memberantas al-bathil. Mereka berada di dari depan memberantas kemunkaran, meskipun menghadapi risiko “dimusuhi” media massa yang memang dikuasai kaum zionis, salibis, dan sekuler.

Keberanian (Asy-syaja’ah) memang tidak bisa dibuat-buat. Ia lahir dengan sendirinya dari keimanan yang sempurna. Orang beriman hanya menakuti Allah SWT sehingga berani membela yang benar dengan cara yang disanggupinya.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja mengaku beriman), sedang Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antaramu dan tidak mengambil menjadi teman setia (dan pemimpin)  selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman…” (QS 9:16). Wallahu a’lam bish-shawabi. (www.warnaislam.or.id).*

Related Post