Donald Trump Sedang Mendakwahkan Islam

bash muslim

bash muslimPERNYATAAN-pernyataan capres Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, selama kampanye hakikatnya menguntungkan kaum Muslim.

Warga Amerika yang sudah dewasa dalam menyikapi isu-isu terkait Islam dan Muslim juga paham, ucapan Trump hanyalah pernyataan tipikal politisi demi meraih dukungan.

Warga AS dan masyarakat internasional juga mengerti, Trump sedang menggunakan isu Islam demi kepentingan politiknya. Bisa dikatakan, Trump berbicara bagaikan robot. Ia disetting oleh tim suksesnya untuk menyerang Islam dan Muslim demi popularitas.

Dari lubuk hati yang paling dalam, kita percaya, Trump menentang pernyataannya sendiri soal Islam dan Muslim, seperti peryataan Islam itu masalah, masjid harus diawasi, dan Muslim harus dilarang masuk Amerika.

Dengan begitu semangat mengangkat isu anti-Islam, Trump sebenarnya sedang “mendakwahkan” Islam kepada dunia. Publik akan jadi kian penasaran dan mempelajari Islam, sebagaimana terjadi dalam banyak kasus sebelumnya, seperti kasus kampanye pembakaran Al-Quran oleh pendeta Amerika, Terry Jones, atau kasus film anti-Islam Fitna yang dibuat politisi Belanda, Geert Wilder.

Jadi, umat Islam tidak mesti terprovokasi dan “sewot” berlebihan atas Trump. Sekali lagi, sang pengusaha kelas kakap AS itu tengah berjudi di Pilpres Amerika 2016. Tim suksesnya memilih isu anti-Islam sebagai pendongkrak popularitas –strategi usang yang tampaknya akan membuat Trump gagal di 2016.

Warga Amerika sendiri banyak yang menentang sikap anti-Islam Trump. Sebagai contoh, warga New York melakukan aksi demo Jumat (11/12/2015) sekaligus menyebarkan dukungan untuk muslim serta pengungsi.

Massa demonstran berkumpul di depan Trump Tower di Upper West Side, New York, guna menyuarakan penentangan atas yang mereka sebut “penindasan Trump terhadap Hak Asasi Manusia”.

Dikutip MTV News, aksi tersebut didukung oleh organisasi Asosiasi Arab AS New York, sebuah organisasi yang mengaku biasa melayani pengungsi, imigran, dan pencari suaka dari Arab dan Timur Tengah.

“Sikap Trump yang menjijikkan dan penuh kebencian justru mempersatukan warga AS dan New York. Inilah aksi demo yang mencerminkan negara kami,” kata seorang aktivis organisasi itu, Linda Sarsour.

Dalam aksi protesnya, mereka juga memperingatkan bahwa komentar Donald Trump yang melarang muslim masuk AS itu hanya akan memperkuat demam Islamofobia yang tengah marak di negara itu.

“Keberadaan Donald Trump di sini hanya untuk menuang bensin ke api (Islamofobia) itu,” tutur seorang warga lain, Skanda Kadirgamar dikutip Reuters.

Trump hanyalah satu dari sekian politisi yang mencari popularitas dengan mengangkat isu anti-Islam. Di negara kita, Indonesia, juga ada beberapa orang yang gemar menyudutkan Islam dan Muslim demi popularitas –mungkin juga demi “sponsor” alias “dibayar”.

Manfaatkan Data Survei

Demi meraih dukungan dan populritas jelang Pilpres AS tahun depan, Tim Sukses Donald Trump tampaknya memanfaatkan data survei yang menunjukkan sebagian besar warga Amerika menilai Islam itu “tidak baik”.

Seperti dilansir The Guardian dan berbagai media lain, hasil survei terbaru dari YouGov menunjukkan 55 persen warga Amerika yang disurvei berpendapat Islam”tidak baik”. Mayoritas responden adalah simpatisan Partai Republik.

Hasil survei Pew Research Center (2014) juga menunjukkan, warga Amerika memiliki pandangan negatif tentang Islam.

Retorika anti-Muslim Trump difokuskan pada keamanan mengingat –akibat pemberitaan bias media– Islam dan Muslim diidentikkan dengan terorisme dan teroris.

Sikap permusuhan terhadap umat Islam di Amerika diakibatkan kurang akrabnya warga negara itu dengan Muslim. Saat ditanya dalam jajak pendapat YouGov tentang apakah mereka bekerja dengan seorang Muslim, sebanyak 74 responden mengatakan tidak.

Survei juga menanyakan apakah responden memiliki teman-teman yang Muslim, sekira 68 persen mengatakan tidak. Sebanyak 87 persen responden mengatakan mereka tidak pernah masuk ke dalam masjid.

Meski terus diserang secara verbal dan fisik, Islam kian berkembang di Amerika. Pew memperkirakan, pada 2050 persentase warga Muslim Amerika akan tumbuh 0,9 persen hingga 2,1 persen. Islam adalah agama paling cepat berkembang di Amerika Serikat. Wallahu a’lam. (www.warnaislam.or.id).*

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published.


*