Gafatar Aliran Sesat dan Bukan Organisasi Islam

gafatar

gafatarWarnaislam.or.id — Majelis Ulama Indonesia () Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan kelompok Gerakan Fajar Nusantara (adalah  dan bukan organisasi Islam.

Pengamat intelijen Ridlwan Habib juga menilai kelompok  Gafatar yang ramai dibicarakan saat ini bukan kelompok Islam.

Organisasi yang dideklarasikan di Jakarta 21 Januari 2012 itu juga dinyatakan pemerintah sebagai organisasi yang terlarang dengan dikeluarkannya surat Ditjen Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri RI Nomor 220/3657/D/III/2012 tangga 20 November 2012.

Organisasi tersebut juga sempat berganti nama menjadi Negara Karunia Tuhan Semesta Alam (NKSA).

“Kita berharap jangan ada orang NTB ikut kelompok itu. MUI pusat sudah menyatakan Gafatar itu kelompok sesat dan bukan gerakan organisasi Islam murni,” ujar Ketua MUI NTB Saiful Muslim seperti dikutip Republika Selasa (12/1/2016).

Ia menuturkan, awal Januari 2015, kelompok tersebut pernah mendatangi MUI NTB untuk diakui sebagai organisasi yang sah. Namun, usai diteliti dan diperiksa lebih lanjut, Gafatar dinyatakan merupakan aliran sesat dan bukan organisasi Islam.

“Gafatar pernah datang ke NTB di awal 2015 ingin diakui, namun steelah dipelajari AD/ART organisasi bukan masuk ke organisasi Islam,” kata dia mengungkapkan.

Ia mengimbau kepada seluruh MUI di 10 kabupaten/kota untuk berhati-hati dengan keberadaan kelompok aliran Gafatar serta melakukan koordinasi untuk langkah antisipasi di masyarakat.

Saiful menegaskan, MUI NTB menolak keberadaan aliran Gafatar. Selain itu, hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan laporan serta informasi mengenai orang hilang akibat mengikuti aliran keagamaan ataupun Gafatar.

Ia menuturkan, aliran Gafatar sempat terdeteksi beraktivitas di wilayah Sesela, Kabupaten Lombok Barat. Namun, kini keberadaannya sudah tidak ada sebab masyarakat sekitar menolak aliran tersebut.

“Masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh dan terperangkap,” ucap dia.

Hal senada dikemukakan pengamat intelijen Ridlwan Habib. Seperti MUI, ia pun menilai kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang ramai dibicarakan saat ini bukan kelompok Islam.

“Gafatar bukan kelompok Islam,” tegas jebolan S2 Intelijen UI itu kepada Tribunnews, Selasa (12/1/2016).

Ridlwan jelaskan, Ormas Gafatar adalah transformasi ormas milik Mosadeq yang pernah dilarang. Karena Mosadeq mengaku sebagai nabi .

Ia menilai Polri perlu meminta keterangan kepada pimpinan Gafatar sebagai saksi. Bahkan, menurutnya, Polri harus memanggil pimpinan Gafatar untuk menjelaskan apa betul mereka terlibat dalam kasus orang hilang.

Dia juga mengimbau agar keluarga yang kehilangan anggota familinya karena ikut Gafatar melapor resmi ke Polri setempat agar ada data valid.

Kadivhumas Polri Irjen Pol Anton Charliyan di Mabes Polri Jakarta menduga organisasi Gafatar mengandalkan prinsip kasih sayang dan anti-kekerasan untuk menarik minat masyarakat agar bergabung dengan organisasi mereka.

“Mereka menggunakan asas kasih sayang dan anti kekerasan. Ini kedok mereka dengan menawarkan keringanan-keringanan dalam melaksanakan ibadah sehingga menarik bagi mereka yang enggan beribadah sesuai syariat Islam,” katanya.*

Nama Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) pekan ini dengan munculnya kasus hilangnya seorang dokter bernama Rica Tri Handayani dan putranya pada 30 Desember 2015.

Berdasarkan keterangan suami Rica, dokter Aditya Akbar Wicaksono, istrinya itu pernah terlibat aktif dalam organisasi yang disebut-sebut sebagai metamorfosa dari kelompok Millah Abraham dan Al-Qiyadah Al-Islamiah yang pahamnya menyimpan dari ajaran Islam.

Menurut penelusuran Okezone, berbagai ajaran kontroversial diterapkan dalam organisasi ini, di antaranya pengikutnya tidak dianjurkan salat lima waktu, yang notabene menjadi kewajiban umat Islam.

Selain tidak mewajibkan ibadah salat, Gafatar juga tidak mewajibkan pengikutnya melaksanakan puasa, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah Al-Mukarromah. Mereka bahkan berpandangan, bagi siapa saja yang melaksanakan rukun Islam tersebut termasuk dalam komunitas orang kafir.

Mereka juga menganggap siapapun yang tidak tergabung dalam kelompok mereka dianggap kafir. Gerakan ini disebut-sebut hampir mirip dengan NII KW9.*

Related Post