Harga Mahal Karena Korupsi

high-price

high-priceHAKIKAT penyebab kenaikan atau mahaklnya arga-harga kebutuhan pokok, termasuk biaya pendidikan dan kesehatan, adalah pemerintahan yang korup.

Di satu sisi, harga-harga melambung tinggi, di sisi lain praktek korupsi, suap-menyuap, dan mafia (termasuk mafia peradilan) marak terjadi dan belakangan banyak terungkap.

Terungkap sudah, krisis ekonomi, krisis pangan, krisis energi, maraknya rawan daya beli, masih banyaknya pengangguran, serta kemiskinan yang masih merajalela bersumberkan satu hal: pemerintahan korup.

Para pejabat sibuk dengan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya, sibuk memperkaya diri, sibuk pula kasak-kusuk demi kenaikan pangkat dan gaji, mengakibatkan kepentingan dan kesejahteraan rakyat terabaikan. Pejabat korup telah mengkhianati amamah dan mengabaikan urusan rakyat.

Menurut Al-Maqrizi dalam Iqthatsul Ummah bi kasyfil Ghummah (Menolong Rakyat dengan Mengeluarkan Sebab-Sebab Penyakitnya), penyebab inflasi (kenaikan harga) terutama karena administrasi pemerintahan yang korup.

Al-Maqrizi mengungkapkan pendapatnya itu tidak lepas dari pengalamannya sebagai seorang muhtasib (pengawas pasar) pada periode Circasian atau Burji Mamluk (784-922/1382-1517).

Ia melihat maraknya praktek korupsi, kebijakan pemerintah yang buruk, dan administrasi yang lemah membuat keadaan ekonomi tak terkontrol. Akibatnya, kepentingan-kepentingan rakyat tidak terakomodasi dan akhirnya bahan makanan pun menjadi langka.

Kenaikan harga adalah hal yang wajar, misalnya karena “hukum ekonomi” –barang langka harga naik, permintaan bertambah pasokan berkurang, dll. Namun, yang tidak wajar jika kenaikan harga itu ternyata akibat korupnya pemerintahan/pejabat negara.

Pada masa Rasululullah Saw juga pernah terjadi kenaikan harga. Namun, masalah harga barang/jasa pada masa rasul diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar.

Tugas pemerintah adalah mengawasi mekanisme pasar itu agar berjalan fair, tidak ada penimbunan, mafia, dan monopoli, agar harga-harga tetap terkendali, bahkan murah.

Ahmad bin Hambal, Abu Daud, Turmudzi, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Anas bin Malik ra. Ia berkata, “Pernah naik harga (barang-barang) di Madinah zaman Rasulullah saw. Orang-orang berkata “Ya Rasulullah, telah naik harga, karena itu tetapkanlah harga bagi kami”.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah itu penetap harga, yang menahan, yang melepas, yang memberi rejeki dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah di dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi di jiwa atau di harga”.

Ibnu Qudamah mengutip hadist yang diriwayatkan Abu Daud yang diriwayatkan dari Abu Hurairah yang mengatakan, ada seorang laki-laki datang lalu berkata, “Wahai Rasulullah tetapkanlah harga ini”. Beliau menjawab, “(tidak) justru biarkan saja”.

Kemudiaan beliau didatangi oleh laki-laki yang lain lalu mengatakan, “Wahai Rasulullah, tetapkanlah harga ini”. Beliau menjawab, (tidak) tetapi Allah-lah yang berhak menurunkan dan menaikkan.”

Jika Rasul mengikuti kehendak sahabat, niscaya akan terjadi: antrean, spekulasi, pasar gelap, penimbunan, dan sebagainya. Bagaimana nasib kaum miskin? Ada Baitul Mal yang akan membantu fakir miskin sehingga yang kaya tetap membayar sesuai harga pasar.

Kalau merujuk dari hadits Rasululullah Saw, pemikiran Khulaurrasyidin, dan beberapa ekonom Muslim mengenai harga, penetapan harga oleh pemerintah lebih dikarenakan adanya sebab-sebab tertentu yang berhubungan langsung dengan kondisi rakyat. Bukan semata-mata kepentingan pemerintah, apalagi pemerintahan yang disinyalir Al-Maqrizi –pemeritahan yang korup! Wallahu a’lam bish-shawabi. (www.warnaislam.or.id).*