Masih Banyak Umat Islam yang Enggan Bayar Zakat

zakat

zakatWarnaislam.or.id, Jakarta — Umat Islam masih banyak yang enggan membayar zakat. Padahal, zakat merupakan rukun Islam yang wajib dilaksanakan, sebagaimana rukun Islam lainnya –syahadat, shalat, puasa, dan haji bagi yang mampu.

Hal itu tercermin dari masih besarnya jarak antara potensi zakat dan penerimaan. Menurut data Badan amil zakat nasional (Baznas), potensi zakat nasional sebesar Rp217 triliun, namun penerimaan zakat pada tahun 2014 baru mencapai Rp3,8 triliun.

Dari hasil penelitian yang dilakukan IPB terkait faktor yang mempengaruhi pembayaran zakat di masyarakat di Kabupaten Bogor adalah kecakapan organisasi pengelolaan zakat, tingkat keimanan, tingkat kepedulian sosial, tingkat agama, kepuasan diri dan mengharapkan balasan.

“Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat yang bersifat transparan hanya 23 persen, dan hanya 15 persen yang menilai lembaga zakat profesional,” ujar Direktur Pelaksana Baznas, Teten Setiawan, seperti dikutip Antara (28/6/2015).

Ia mengatakan, potensi zakat yang dimiliki Indonesia mencapai Rp217 triliun, namun faktanya penyerapan dana zakat pada tahun 2010 baru mencapai Rp1,5 triliun. Hal ini memperlihatkan terjadinya jarak yang besar antara potensi dan nilai zakat yang terkumpul mengindikasikan ada sebagian orang Islam kurang termotivasi membayar zakat.

“Dari hasil riset diketahui faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan membayar zakat adalah kecakapan organisasi pengelola zakat, tingkat keimanan, tingkat kepedulian sosial, tingkat agama, kepuasan diri dan mengharapkan balasan,” ungkapnya.

Sertifikasi Lembaga Zakat
Untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolan serta penyaluran zakat agar lebih dipercaya oleh masyarakat, Baznas Pusat akan melakukan sertifikasi kepada lembaga amil zakat yang ada di Indonesia.

“Baznas akan lakukan sertifikasi terhadap badan amil zakat. Artinya, dengan adanya sertifikasi ini hanya lebih lembaga amil zakat yang terakreditasi yang melakukan pengelolaan zakat,” katanya.

Menurut Teten, berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang pengelolan zakat menunjuk Baznas sebagai lembaga mengelola zakat di tanah air. Untuk mengelola zakat tersebut Baznas diperbolehkan mebina masyarakat untuk dapat membantu dengan membantuk lembaga amil zakat.

“Baznas itu ada tiga tingkatan, yakni pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Kita lakukan penguatan pengelolaan zakat, kuakan akuntabilitas dan pemerintahan yang baik, serta sinergitas pengelolaan zakat,” katanya.

Berdasarkan undang-undang tersebut, lanjut dia, saat ini lembaga amil zakat yang memenuhi syarat dibolehkan mengelola zakat. Jumlahnya ada 18 lembaga amil zakat di bawah binaan Baznas.

Ia menambahkan, langkah untuk melakukan sertifikasi lembaga amil zakat sudah dalam wacana, karena saat ini untuk membentuk lembaga amil zakat harus melalui proses perizinan di Kementerian Agama, dan sebelum mendapatkan izin harus berdasarkan rekomendasi dari Baznas.

Zakat Alternatif Mengatasi Kemiskinan

Ia mengatakan, peran zakat yang sangat luas terutama berkaitan dalam mengatasi kemiskinan yang menjadi permasalahan utama di Indonesia. Krisis ekonomi yang terjadi di dalam negeri maupun luar negeri ikut mempengaruhi lamanya bencana kemiskinan di dalam negeri.

“Zakat menjadi alternatif program pemerintah dalam mengatasi kemiskinan,” katanya.

Selain itu, zakat merupakan sarana yang dilegalkan oleh agama Islam dalam pembentukan modal yang tidak semata-mata dari pemanfaatan dan pengembangan sumber daya alam, tetapi juga berasal dari sumbangan wajib orang kaya.

“Zakat juga berperan penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penyediaan sarana serta prasarana produksi,” katanya.

Zakat Hanya 2,5%
Perintah membayar zakat disebutkan dalam Alquran secara bersama-sama dengan perintah shalat dalam 82 ayat. Salah satunya salam surat Al-Baqarah: 277,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan salat dan menunaikan zakat mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhan, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”

Jika harta tidak dikeluarkan zakatnya, maka harta itu kotor karena ada hak orang lain –yakni kaum dhuafa atau yang berhak menerima zakat (mustahik)– di dalamnya.  

“Ambillah zakat itu dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan (harta) dan mensucikan (jiwa) mereka” (QS. At−Taubah : 103).

Zakat terbagi dua macam, yaitu zakat mal dan zakat fitrah. Zakat mal ditunaikan setiap tahun sebesar 2,5% dari jumlah harta minimal senilai 85 gram emas, setiap bulan (zakat penghasilan/profesi) sebesar 2,5% dari penghasilan minimal Rp4,2 juta per bulan, dan zakat fitrah sebesar sekitar Rp30.000 per orang yang ditunaikan setiap bulan Ramadhan.*

Related Post