Manusia Terbaik Paling Bermanfaat

amal soleh kebaikan menolong

amal soleh kebaikan menolong“Sebaik-baik manusia ialah orang dapat memberi manfaat kepada manusia lain”. (Wasiat Rasulullah Saw kepada Ali bin Abi Thalib).

BERBAHAGIALAH orang-orang kaya. Karena dengan kekayaannya, mereka dapat leluasa berjuang di jalan Allah (jihad amwal). Harta yang dimilikinya dapat membuat mereka bahagia dunia-akhirat dengan cara mempergunakannya di jalan Allah: membayar zakat, infak, sedekah, mendanai pembangunan masjid, mushola, sarana pendidikan, membantu fakir miskin atau kaum dhuafa lainnya, menolong sesama yang mengalami kesulitan ekonomi, mendukung perjuangan kaum Muslimin, dan sebagainya.

Sekadar gambaran pahala ibadah dengan harta, Rasulullah Saw berwasiat kepada Ali bin Abi Thalib berikut ini: “Wahai Ali! Siapa yang memberi makan kepada seorang muslim dengan senang hati, niscaya Allah menuliskan baginya 1.000 kebajikan, menghapuskan 1.000 kejahatan, dan diangkat 1.000 derajat”.

Dana zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan kaum kaya bisa menjadi sumber dana pengembangan ekonomi umat, pemberdayaan iman dan takwa umat, pengentasan kemiskinan, pembangunan akhlak, keilmuan, dan keterampilan mereka, juga menjadi sumber dana penyediaan sarana dan prasarana dakwah yang dibutuhkan masyarakat Islam. Syaratnya, kesadaran berzakat, infak, dan sedekah umat Islam yang diamanahi kekayaan melimpah itu, diikuti dengan pengelolaan yang profesional, jujur, amanah, dan efektif.

Kaum kaya bahkan dapat membantu saudaranya sesama Muslim yang tengah berjuang membebaskan diri dari penjajahan dan kezaliman kaum kuffar, seperti di Palestina, Afganistan, dan Irak. Harta yang mereka infakkan bagi pendanaan perjuangan itu, membuat mereka memiliki pahala sama dengan mereka yang berjuang langsung di medan pertempuran.

“Siapa yang membantu menyiapkan persiapan kepada orang yang berperang pada jalan Allah, maka samalah halnya dengan ia turut berperang. Dan siapa yang menjaga atau memerhatikan keluarga (pejuang) yang ditinggalkannya dengan baik, maka bererti beliau juga telah ikut berperang” (HR Muslim).

Selain di medan perang dalam arti fisik-militer itu (jihad qital), kaum kaya juga dapat turut bertempur di medan juang pendidikan, sosial,  budaya, politik, dan media massa.

Harta mereka dapat diinfakan untuk membantu proses pengembangan pendidikan Islam, membiayai pant-panti asuhan, mensponsori pengembangan nilai-nilai budaya Islam, mendanai aktivitas pergerakan Islam di bidang politik, dan menjadi investor media massa Islam yang kini masih tertinggal jauh media massa yang tidak Islami. Pahala mereka akan sama, bahkan mungkin lebih besar, dengan para aktor di lapangan.

Demikianlah, orang-orang kaya dapat menjadi dengan menebar manfaat bagi orang lain dengan menginfakkan hartanya di jalan Allah. Mereka pun menjadi mujahid fillah.

“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” (QS 9:20).

Kaum kaya demikian hanyalah mereka yang menyadari posisi harta yang dimilikinya, bahwa semua hanyalah amanah Allah untuk dimanfaatkan bagi kemaslahatan kehidupan sesama, khususnya masyarakat Islam. Kesadaran yang membuatnya tidak kikir, cinta dunia dan takut mati (wahn), dan tidak mendatangkan kecemburuan sosial-ekonomi dengan pola hidup mewah, foya-foya, atau bentuk “unjuk kekayaan” lainnya.

Harta adalah salah satu ujian bagi kaum mukmin dalam hal cara mendapatkannya, menyikapinya, dan menggunakanya. Harta bisa membuat seseorang mulia, bisa pula hina-dina.

Orang yang menjadi kaya karena korupsi, penipuan, penyelewengan, dan sebagainya sangat hina dalam pandangan Allah, juga dalam pandangan manusia. Sabda Rasulullah, “Carilah rezeki dengan tetap menjaga kehormatan diri”.

BERBAHAGIALAH orang-orang berilmu karena mereka dapat berjuang di jalan Allah dengan ilmunya. Ibu Qoyyim mengistilahkannya dengan “jihad hujjah” –mengemukakan argumentasi yang kuat tentang kebenaran Islam. Ibnu Taimiyah menanamakannya sebagai “jihad dengan lisan” (jihad bil lisan) atau “jihad dengan ilmu dan penjelasan” (jihad bil ‘ilmi wal bayan).

Ilmuwan atau cendekiawan dapat melakukan jihad di jalan Allah dengan membentengi umat Islam dari pemikiran-pemikiran sesat, menangkal penyelewengan pemikiran Islam, melakukan “dakwah bil qolam” dengan tulisan-tulisannya di media massa, buku-buku, buletin, majalah, atau internet. Dengan ilmu dan wawasannya mereka dapat menyerukan perubahan (amar ma’ruf nahyi munkar).

Orang-orang berilmu dapat menjadi manusia terbaik dengan menjadi mujahid pendidikan, menjadi guru, penceramah, dan sebagainya. Juga bisa menjadi instruktur, pelatih, atau guru bagi mereka yang membutuhkan keahlian, keterampilan, dan wawasan.

Orang-orang berilmu, dengan demikian, sangat potensial menjadi manusia terbaik dengan menebar manfaat dan kemaslahatan bagi sesama. Ia bisa memahamkan, mencerdaskan, membukakan mata-hati, dan menciptakan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi sesama.

Orang-orang berilmu yang demikian adalah mereka yang menyadari, bahwa ilmu pun merupakan amanah dari Allah Swt untuk kemakmuran dan kemaslahatan sesama, bukan untuk menimbulkan kerusakan, peperangan, permusuhan, konflik, dan hal mafsadat lainnya.

Ilmuwan politik dapat membawa kebaikan dengan strategi, analisis, dan pemahaman yang benar dan syar’i yang dikembangkannya, sekaligus menciptakan sistem dan praktek politik yang sesuai dengan ajaran Islam. Ahli ekonomi dapat mengembangkan strategi dan praktek ekonomi syariat.

Demikian pula ahli budaya, seniman, dan jurnalis yang dapat melahirkan karya yang mengabdi pada kepentingan syiar Islam dan kemaslahatan umat manusia. Bukan menjadi politisi, ekonom, budayawan, seniman, dan jurnalis yang membawa kerusakan fisik dan moralitas manusia.

APA pun yang kita miliki –harta, ilmu, keahlian, tenaga, pemikiran– hendaknya membuat kita menjadi “manusia terbaik”, yaitu dengan menebar manfaat dari apa yang kita miliki itu bagi sesama, bukan menimbulkan bencana atau kerusakan.

Berbahagialah jika kita bisa berbuat sesuatu (yang baik) bagi orang lain dengan harta, ilmu, tenaga, pemikiran, atau apa pun yang kita punya. Berbahagialah jika kita menjadi sarana, wasilah, bahkan sumber kebaikan bagi sesama. Pahala ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah, menurut Rasulullah, akan terus mengalir bahkan sampai ketika kita menjadi “yatim piatu” di alam kubur (akhirat) kelak.

Semangat “memberi manfaat” atau “berkontribusi positif” kepada orang lain harus ditumbuhkembangkan di kalangan umat Islam, agar predikat “khoiru ummah” benar-benar ditujukan Allah Swt kepada kita, juga agar kedamaian, maslahat, dan kebahagiaan hidup kita nikmati di dunia dan di akhirat kelak. Wallahu a’lam. (www.warnaislam.or.id).*

Related Post