MUI Keluarkan Fatwa Haram Rayakan Valentine

say no to valentine

say no to valentineWarnaislam.or.id — Majelis Ulama Indonesia () Kota Malang Jawa Timur mengeluarkan surat edaran tentang (Valentine’s Day) 14 Februari. MUI menyatakan perayaan Valentine haram bagi kaum Muslim  karena tidak sesuai dengan norma dan ajaran Islam.

Surat edaran yang berisikan fatwa haram tersebut dikeluarkan pada 9 Februari 2016 dengan nomor 04/FTW-MUI/KTMLG/II/2016.

Sekretaris Umum Dewan Pimpinan MU Kota Malang, Baroni, mengungkapkan, tradisi perayaan Valentine kerap mengabaikan norma-norma agama.

”Cenderung hubungan antar lawan jenis yang bukan muhrim,” kata Baroni seperti yang dilansir Radar Malang Sabtu (13/2/2016).

Selain itu, Valentine juga tidak dikenal dalam sejarah serta budaya Islam, sarat dengan perbuatan dosa dan dianggap bisa mengancam pendidikan karakter bangsa terutama generasi muda. ”Esensi kasih sayang tidak seperti itu,” tegas Baroni.

Hari Valentine: Peringatan Kematian Pendeta St. Valentine

Menurut berbagai literatur, Valentine’s Day (Hari Valentine) adalah Peringatan Kematian Pendeta St. Valentine. Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908) mencatat, istilah Valentine yang disadur dari nama “Valentinus”  merujuk pada tiga martir atau santo  (orang suci dalam Katolik) yang berbeda: seorang pastur di Roma, uskup  Interamna, dan seorang martir di Provinsi  Romawi Africa (Wikipedia).

Hubungan antara tiga santo tersebut  terhadap perayaan V alentine atau “hari  kasih sayang” tidak memiliki catatan  sejarah yang jelas. Bahkan, Paus  Gelasius II tahun 496 M menyatakan, sebenarnya tidak ada hal yang diketahui  dari ketiga santo itu.

Tanggal 14 Februari dirayakan  sebagai peringatan santa Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya
Lupercalica (Dewa Kesuburan) yang dirayakan tanggal 15 Februari. Beberapa sumber menyebutkan, jenazah santo Hyppolytus yang diidentifikasi sebagai jenazah santo Valentinus diletakkan dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whiterfiar Street Carmelite Churc di Dublin Irlandia oleh Paus Gregorius XVI
tahun 1836.

Sejak itu, banyak wisatawan yang  adalah nama seorang paderi, Pedro St. Valentino.

Tanggal 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Spanyol. Jadi, tumbangnya kerajaan Islam di Spanyol dirayakan sebagai Hari Valentine.

Ibnul Qayyim berkata: “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan “Selamat hari raya!” dan semisalnya.

Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyembah Salib.

Bahkan, perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut.”

Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo V alentinus dengan cinta berziarah ke gereja ini pada tanggal 14 Februari. Pada tanggal tersebut sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Literatur lain menyebutkan, tanggal 14 Februari 270 M, St. V alentine dibunuh karena pertentangannya (pertelingkahan) dengan penguasa Romawi, Raja Claudius II (268 – 270 M). Untuk mengagungkan St. Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan, maka para pengikutnya memperingati kematian St. V alentine sebagai “upacara keagamaan”.

Tetapi sejak abad 16 M, ‘upacara  keagamaan’tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi ‘perayaan bukan keagamaan’. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.

Setelah orang-orang Romawi itu masuk Kristen, pesta “supercalis” kemudian dikaitkan dengan upacara
kematian St. V alentine. Penerimaan upacara kematian St. V alentine sebagai ‘hari kasih sayang’ juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropah bahwa waktu ‘kasih sayang’ itu mulai bersemi ‘bagai burung jantan dan betina’pada tanggal 14 Februari.

Dalam bahasa Prancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang bererti ‘galant atau cinta’. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berpikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya tanggal 14 Februari.

Dipercayai 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung):

For this was sent on Seynt Valentyne’s day (“Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus”)
When every foul cometh there to choose his mate (“Saat semua burung datang ke sana untuk memilih 
pasangannya”).

Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka “Valentine” mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London.

Menurut catatan Wikipedia, Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut.

Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini menjadi budaya
populer di kalangan anak muda. Bentuk perayaannya bermacam-macam, mulai dari saling berbagi kasih dengan pasangan, orang tua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi, dan mengunjungi panti asuhan di mana mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari sesama manusia.

Semua ulama di seluruh dunia bersepakat, umat Islam tidak boleh merayakan Valentine karena Valentine adalah “ritual” atau “hari raya” non-Muslim yang harus kita hormati tanpa harus turut merayakannya.*

Related Post