Ratusan Pekerja Muslim yang Dipecat karena Shalat Minta Kembali Bekerja

200 Karyawan Muslim Dipecat

200 Karyawan Muslim DipecatWarnaislam.or.id, — Perwakilan hukum ratusan  yang dipecat perusahaan pengepakan daging  Cargill Meat Solution di Fort Morgan, Colorado, karena melaksanakan meminta kepada perusahaan agar menerima kembali para pekerja.

Cargill melakukan pemecatan setelah lebih dari 200 karyawannya mogok kerja guna memprotes  perubahan kebijakan kerja perusahaan terhadap waktu sholat.

“Mereka meminta untuk mendapatkan pekerjaan mereka kembali,”  kata Jaylani Hussein, Direktur Eksekutif Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) Minnesota, yang mewakili para pekerja.

Dalam pernyataannya, Cargill mengungkapkan, para karyawan telah meminta waktu untuk sholat yang akan menghambat alur kerja perusahaan.  Hussein pun menegaskan, kebijakan perusahaan mengada-ada.

“Mereka hanya mencoba untuk memutar cerita sehingga tampaknya lebih menguntungkan,” kata Hussein seperti dikutip News Fulton County.

Cargill menyatakan, tak ada perubahan kebijakan perusahaan mengenai waktu beribadah. Cargill berdalih bahwa ada kesalahpahaman yang berakar di masyarakat Somalia “menunjukkan Cargill telah berakhir doa seluruhnya karena adanya perubahan kebijakan”.

“Cargill sudah berkomitmen,” kata Michael Martin, juru bicara Cargill, mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada AA. ” Pada waktu itu Cargill menegaskan tak pernah mencegah karyawan untuk sholat di Fort Morgan. “Kami juga tak mengubah kebijakan yang berkaitan dengan akomodasi keagamaan dan kehadiran.”

Perusahaan telah memberikan karyawannya ruangan untuk beribadah sejak 2009. Ruangan yang tersedia selama shift kerja di area kerja tertentu.

Menurutnya, mereka tak masuk kerja selama tiga hari berturut-turut selama protes. Martin pun menyanggah bahwa tak adanya pemanggilan kepada pekerja Muslim merupakan cara  menyingkirkan mereka.

Sebelumnya diberitakan, sekitar 200 karyawan muslim imigran asal Somalia dipecat Cargill Meat Solutions dengan alasan menggunakan tempat dan waktu kerja untuk shalat.

Lembaga advokasi terkemuka di Amerika, Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), menilai sikap perusahaan ini sangat diskriminatif karena hanya memberikan pilihan libur bagi karyawan yang ingin beribadah.

Juru bicara CAIR Colorado, Jaylani Hussein, mengatakan semua karyawan yang dipecat tersebut tidak pernah membuat masalah dalam kinerja perusahaan.

“Semua karyawan tersebut sangat cakap dan tidak memiliki masalah. Mereka hanya ingin hak beribadah mereka dikembalikan, karena mereka tetap mengutamakan ibadah saat bekerja,” katanya seperti dikutip Associated Press.*

 

Related Post