Sambut Ramadhan dengan Amal Saleh!

ramadhan kareem

Puasa RamadhanMenyambut Ramadhan dengan amal saleh (sholeh/shalih), sebagaimana generasi salaf, menambah nilai kebaikan selama puasa Ramdhan.

SEORANG “darwis” (sufi pengembara) menemui Syekh Ibnu Hamdun yang sedang siap-siap menyambut awal Ramadan. Ia berkata keras:

“Anda belum siap menjalankan ibadah Ramadan, wahai Syekh ! Sebab hingga detik-detik terakhir kedatangan hilal, Anda masih sibuk mengerjakan perbuatan-perbuatan yang merusak nilai-nilai pahala Ramadan. Anda masih sibuk “tajassus” (mengutik-utik kesalahan orang lain), “ghibah” (mengumpat orang lain), “namimah” (provokasi), dan “fitnah” (mengatakan sesuatu yang tak ada). Anda masih sibuk “i’jabul mar’i binafsihi” (mengagumi diri sendiri).

“Anda akan memasuki Ramadan yang menjadi tempat penggodogan ketakwaan. Namun Anda malah menunjukkan sikap anti-takwa. Anda tidak mematuhi perintah Alloh, agar menjauhi “tajassus”, “ghibah”, namimah” (QS. Hujurat:12), malah Anda terangan-terangan mengerjakan laranganNya itu.”
“Jika demikian, puasa Anda kelak akan bernilai minus. Anda hanya akan mendapat lapar dan dahaga saja. Mustahil mendapat rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Bahkan Anda hanya akan menjadi santapan Neraka Saqor, karena Anda terus membicarakan hal-hal bathil . Apakah Anda tidak membaca QS. al-Mudatstsir ayat 45?”

Sebelum Syekh Ibnu Hamdun sempat menjawab, darwis itu telah lenyap di tengah hiruk-pikuk glamour dan konsumerisme, yang mengoyak keheningan awal Ramadan.

Dalam Fatawa Syaikh bin Bazz disebutkan, para ulama salaf terdahulu menyambut Ramadhan dengan perasaan senang dan bahagia. Mereka juga saling berpesan untuk mengisinya dengan amal shalih. Wallahu a’lam bish-shawabi. (Usep Romli HM).*

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published.


*