Ucapan Selamat Idul Fitri Sesuai Sunnah Rasulullah Saw

selamat-idul-fitri

selamat-idul-fitriBAGAIMANA Cara Mengucapkan atau Ucapan Selamat Idul Fitri Sesuai Sunnah Rasulullah Saw?

Pertanyaan cara mengucapkan selamat lebaran ala Rasul ini penting agar kita, umat Islam, tidak salah kaprah dalam merayakan hari Idul Fitri sebagai salah satu hari raya kaum Muslim selain Idul Adha.

Selama ini, dalam budaya kaum Muslim Indonesia, saat lebaran, bertebaran ucapan Selamat Idul Fitri plus ungkapan Minal ‘Aidin wal Faizin Mohon Maaf Lahir Batin.

Bahkan, banyak juga yang pandai merangkai kata layaknya pujangga –atau sekadar “copas” dari kiriman teman– yang menyertai ucapan ‘met lebaran tersebut.

Lalu, bagaimana suasana perayaaan Idul Fitri zaman Rasulullah Saw dan para sahabat? Apakah ada ucapan ‘Selamat Idul Fitri’?

Tidak banyak referensi tentang suasana lebaran pada zaman Rasul.

Menurut catatan sejarah, antara lain dalam Sirrah Nabawiyah karya karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, Hari Raya Idul Fitri untuk pertama kalinya dirayakan umat Islam setelah Perang Badar pada 17 Ramadhan 2 Hijiriyah.

Dalam pertempuran itu, umat Islam meraih kemenangan. Sebanyak 319 kaum Muslimin harus berhadapan dengan sekutar 1.000 tentara dari kaum kafir Quraisy.

Pada tahun itu, Rasulullah Saw dan para sahabat merayakan dua kemenangan, yakni keberhasilan mengalahkan kaum kafir dalam Perang Badar dan keberhasilan puasa selama sebulan (Ramadhan).

Menurut sebuah riwayat, Nabi Saw dan para sahabat menunaikan shalat Id pertama dengan kondisi luka-luka yang masih belum pulih akibat Perang Badar.

Rasulullah Saw pun dalam sebuah riwayat disebutkan, merayakan Hari Raya Idul Fitri pertama dalam kondisi letih. Sampai-sampai Nabi Saw bersandar pada Bilal ra dan menyampaikan khutbahnya.

Menurut Ibnu Katsir, pada Hari Raya Idul Fitri yang pertama, Rasulullah Saw menuju suatu tanah lapang dan menunaikan shalat Id di atas lapang itu.

Sejak itulah, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menunaikan shalat Id di lapangan terbuka, bukan di masjid.

Ucapan Selamat Idul Fitri

Bagaimana suasana Idul Fitri zaman Rasul? Adakah ucapan selamat lebaran di antara sahabat?

Berkata Al Hafidh Ibnu Hajar (Fathul Bari 2/446): “Dalam “Al Mahamiliyat” dengan isnad yang hasan dari Jubair bin Nufair, ia berkata (yang artinya): Para sahabat Nabi Saw bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya: Taqabbalallahu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”.

taqobbalallahu minna waminkum

Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259) menyebutkan bahwa Muhammad bin Ziyad berkata : “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Saw. Mereka bila kembali dari shalat Id berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain: Taqabbalallahu minnaa wa minka.

Beberapa shahabat menambahkan ucapan shiyamana wa shiyamakum, yang artinya puasaku dan puasa kalian.

Dengan demikian, itulah ucapan selamat Idul Fitri ala sahabat Nabi, namun bukan dari Rasulullah, melainkan dari para sahabat.

Belum ditemukan dalil atau riwayat ucapan lainnya, termasuk ucapan yang sering disampaikan kaum Muslim saat ini, seperti Minal ‘Aidin wal Faizin.

Ungkapan Minal ‘Aidin wal Faizin sendiri itu sebenarnya sebuah doa yang lengkapnya adalah Ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin yang artinya “semoga Allah menjadikan kami dan Anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang)”.

Sumber lain menyebutkan, Minal ‘Aizin wal Faizin adalah ringkasan doa “Allahummaj’alnaa minal ‘aaizin wal faaizin” yang artinya “Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali dan mendapatkan kemenangan”.

Doa itu diucapkan sahabat yang tidak ikut Perang Badar saat menyambut kedatangan pasukan Muslim di Madinah.

Demikian Ucapan Idul Fitri di kalangan sahabat Nabi Saw, yakni saling mendoakan dengan mengucapkan “Taqobbalallahu minna wa minkum”.

Karena sebuah doa, tentu saja jawabannya bukan “sama-sama”, melainkan “amin” atau “Taqobbal Yaa Kariim” (Kabulkanlah Wahai Dzat Yang Mahamulia).

Lalu, bagaimana hukumnya menambahkan ucapan lain dan rangkaian kata-kata puitis, juga bermaaf-maafan dalam suasana Idul Fitri?

Tidak ada larangan, juga tidak ada perintah, maka hukumnya boleh (mubah), selama diyakini bahwa hal itu bukan bagian dari “ritual Idul Fitri”.

Amalan Sunnah Idul Fitri

1. Semua Kaum Muslim Berkumpul di Tempat Shalat Id

“Kami (kaum Muslim) diperintahkan untuk mengeluarkan semua gadis dan wanita yang haidh pada kedua hari raya, agar mereka dapat menyaksikan kebaikan hari itu dan do’a dari kaum muslimin (bisa berdo’a dengan mereka). Hanya saja wanita-wanita yang sedang haidh menjauhi tempat shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kami untuk mengeluarkan para gadis dan wanita yang haid pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun wanita yang haid maka mereka dipisahkan dari tempat shalat dengan tetap menyaksikan kebaikan (pada hari Raya) dan mendengar doa kaum muslimin. Aku bertanya: Wahai Rasulullah di antara kami ada yang tidak mempunyai jilbab. Rasulullah menjawab: hendaknya saudara perempuannya memberi jilbab” (HR. Muslim).

2. Bertakbir

Ketika waktu Maghrib tiba pada tanggal 1 Syawal, setelah shalat Maghrib berjama’ah, kemudian memperbanyak membaca takbir (Allahu Akbar) sampai menjelang dilaksanakan shalat ‘Idul Fitri.

3. Mandi, Memakai Wangi-wangian dan Mengenakan Pakaian Terbaik Sebelum Shalat Id

Sebelum berangkat ke masjid atau lapangan untukmelaksanakan shalat hari raya disunahkan mandi, memakai wangi-wangian dan mengenakan pakaian yang terbaik. Dalam sebuah hadits dari Hasan As Shibti disebutkan:

“Rasulullah saw. memerintahkan kepada kami agar pada kedua hari raya memakai pakaian yang terbagus, memakai wangi-wangian yang terbaik dan berkurban dengan hewan yang paling berharga.” (HR.Al Hakim)

4. Makan Sebelum Berangkat Shalat Id.

“Pada waktu ‘idul fithri Rasulullah saw. tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Ahmad dan Bukhari)

Buraidah berkata: “ Nabi saw. tidak berangkat pada waktu ‘idul fitri sebelum makan dulu dan tidak makan pada waktu ‘idul adha sebelum pulang.” (HR. Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

5. Mengambil Jalan Pergi dan Pulang yang Berbeda

“Apabila Nabi saw. pergi shalat hari raya, maka ketika pulang Beliau menempuh jalan yang berlainan dengan di waktu berangkatnya.” (HR. Ahmad, Muslim dan Turmudzi)

6. Mengucapkan Tahni’ah “Taqobbalallohu minna wa minkum” –sebagaimana ulasan di atas.

7. Mengadakan Permainan yang Membahagiakan dan Sesuai Syariat

Boleh juga mengadakan permainan serta kegembiraan yang tidak melanggar aturan agama, begitu pun pelbagai macam nyanyian yang baik, semua itu menjadi syi’ar agama yang disyari’atkan Allah pada hari raya, untuk melatih tubuh jasmani dan untuk kepuasan hati. ‘Aisyah r.a istri Rasulullah pernah berkata :

“Sesungguhnya orang-orang Habsyi suka mengadakan permainan di hadapan Rasulullah saw. pada hari raya dan sayapun menjengukkan (memunculkan) kepala di atas bahu beliau hingga saya menyaksikan permainan itu dari atas bahu beliau. Saya melihatnya sampai puas, kemudian saya berpaling.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Demikian kajian ringkas tentang Ucapan Selamat Idul Fitri dan Suasana Lebaran pada zaman Rasulullah Saw. Wallahu a’lam bish-showabi. (www.warnaislam.or.id).*

Leave a comment

Your email address will not be published.


*